Pengelolaan lingkungan merupakan parameter dalam pembangunan berkelanjutan. Isue global warming yang belakangan ini mencuat bukan tidak mendasar karena kita bisa secara langsung merasakan dan mengalami sendiri pengaruhnya. Tidak hanya rasa panas yang dialami, namun juga perubahan musim yang sulit diperkirakan. Pranata mangsa yang dulu dijadikan panutan oleh sebagian besar petani di Jawa sekarang selalu meleset, ada hujan salah musim dan sebagainya.
Penebangan hutan yang tidak terkendali sangat besar pengaruhnya terhadap daerah aliran sungai khususnya sungai Progo yang merupakan sungai utama untuk Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Daya dukung sungai dalam penyediaan air untuk sebagaian besar lahan pertanian menurun karena debet air yang tidak stabil. Pada musim penghujan banjir menjadi keprihatinan dan bahaya yang mengancam keselamatan jiwa, benda dan lahan pertanian, sedangkan pada musim kemarau kekeringan terjadi di mana-mana.
Pembangunan sarana dan prasarana pertanian menjadi kurang berarti ketika apa yang telah dibangun hancur diterjang banjir dan kering kerontang pada musim kemarau, bahaya longsor dan erosi tanah terjadi demikian seringnya, pada musim penghujan banjir tidak saja air yang mengalir namun
Penanganan Daerah Aliran Sungai sebaiknya dilakukan secara komprehensif dan terintegrasi ke seluruh lembaga terkait. Diawali dari penghutanan kembali daerah tangkapan air dan dareah sepanjang ruas jalan dan daerah aliran sungai.
Kegiatan penanaman daerah kanan-kiri sungai ( kakisu ) sangat diperlukan. Banyak jenis tanaman yang bisa digunakan sebagai penyelamat daerah aliran sungai..
Albasia / Suren
Dalam kehidupan masyarakat di Indonesia, Tanaman albasia / suren memegang peranan sangat penting. Bahan bangunan dari albasia / suren dikenal oleh masyarakat memiliki sifat-sifat yang baik untuk dimanfaatkan, antara lain batangnya kuat, ulet, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk dan mudah dikerjakan. Selain itu albasia / suren juga relatif murah dibandingkan dengan bahan bangunan lain karena banyak ditemukan di sekitar pemukiman pedesaan.
Selain manfaat secara ekonomis dan sosial seperti tersebut diatas, tanaman albasia / suren berfungsi secara ekologis sebagai penahan erosi, khususnya sebagai talud alami, yang sangat berguna untuk penahan longsoran, juga sebagai pengendali dalam mengatasi pemanasan global dengan penyerapan karbon dioksida dengan fotositesa dalam daun, Pemanfaatan daun albasia sebagai pakan ternak dan pupuk alami pengganti pupuk unorganik banyak dimanfaatkan oleh petani.
Dalam rangka membantu program pemerintah menangani hutan kritis dan lahan kritis yang semakin memprihatinkan, maka masyarakat gondangwinangun sepakat untuk mendukung program
Langkah kongkrit dalam mengatasi dalam mengatasi lahan kritis serta hutan yang semakin bertambah rusak, maka perlu dilakukan prioritas untuk menentukan jenis tanaman yang bermanfaat serta berkesinambungan dalam jangka panjang. Namun tidak semua jenis tanaman mempunyai nilai ekonomi yang yang tinggi. Tanaman yang memenuhi persyaratan tersebut adalah albasia / suren.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar